Mandalawangi-Pangrango
Sendja ini, ketika matahari turun ke dalam djurang-djurang mu. Aku datang kembali. Ke dalam ribaanmu, di dalam sepimu dan dalam dinginnya. Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna, aku bicara terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi. Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada, hutanmu adalah misteri segala. Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta. Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti mandalawangi, kau datang kembali dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja. Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah, dan hadapilah."
Dan antara ransel-ransel kosong, dan api unggun jang membara Aku terima itu semua melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas djurangmu. Aku tjinta padamu Pangrango, karena aku tjinta pada keberanian hidup
Perjalanan ke menuju Pangrango bukan perkara yang mudah. Setidaknya dibutuhkan waktu tujuh jam untuk mencapai Pos Kandang Badak, pos tempat para pendaki biasa berkemah sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak, baik Gunung Gede ataupun Pangrango. Dari Kandang Badak, pilih jalur yang mengarahkan kita ke Gunung Pangrango.
Dari sinilah ujian sebenarnya dimulai, meskipun hanya memakan waktu sekitar empat jam untuk mencapai puncak Gunung Pangrango, namun medan yang akan dilalui cukup menyiksa. Jalan yang menanjak tanpa 'bonus', dikombinasikan halangan pohon tumbang dan tanah yang lembek, akan menjadi menu utama para pendaki. Bahkan setelah sampai di puncak Gunung Pangrango yang kecil, kita harus berjalan turun untuk melihat Lembah Mandalawangi.




Comments
Post a Comment